papuabaratprov.go.id

Jumat, 06 Januari 2012

SEJARAH PULAU MANSINAM - MANOKWARI


Pulau Mansinam adalah salah satu pulau yang luasnya 410,97 Ha dan terletak di teluk doreri sebelah selatan kota Manokwari. Saat ini bila masyarakat ingin menjangkau pulau tersebut, cukup dengan menggunakan Perahu Tradisional atau Long Boat dengan biaya Rp. 5000,- per orang.
Pada pulau peradaban orang Papua tersebut juga terdapat beberapa obyek wisata alam seperti pantai yang ditebari pasir putih yang indah untuk tempat berekreasi dan Gua Kelelawar yang terdapat dibagian belakang pulau tersebut.
Di dasar laut sekitar pulau itu juga terdapat beberapa bangkai kapal peninggalan perang yang tentunya menjadi objek dan daya tarik wisata tersendiri bagi peminat taman wisata bawah laut.
Selain itu, Pulau mansinam juga menyimpan kenangan sejarah awal peradaban injil di Tanah Papua, yang saat ini sudah menjadi tradisi umat kristiani untuk diperingati setiap tahunnya. Tepatnya tanggal 5 Februari 1855.
Sejarah mencatat bahwa saat itu ada dua missionaris berkebangsaan Jerman yaitu Carel Willem Ottow dan Johann Gottlob Gissler menginjakkan kaki pertama kali di pulau tersebut.
Selain tugu peringatan Masuknya Injil di Tanah Papua, ada beberapa situs sejarah lainnya yang dapat menjadi bukti peradaban injil, yakni Situs Gereja, Rumah, Asrama, Sumur Tua dan beberapa Makam Zendeling. Peristiwa ini kemudian menjadikan 5 Februari ditetapkan sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua.
Pada abad ke 15 sebelum masehi, dua orang penduduk asli Biak Pulau Nunfor yang bermarga Rumbruren dan Rumbekwan memulai pelayarannya untuk mencari Manamaker yang artinya pada bahasa tanah Biak Nunfor adalah Tuhan Yesus.
Mereka berlayar menggunakan perahu dengan tujuan yang tidak menentu hingga tiba di Manokwari (Pulau Mansinam dan Lemon). Pada saat itu di Teluk Mananswari dengan bahasa Nunfor yang artinya Mulut Burung yang saat ini dikenal dengan nama Teluk Doreri belum ada penghuninya, karena masyarakat asli tanah tersebut saat itu hidup berpindah – pindah.
Setelah beberapa hari tinggal di pulau mansinam, suatu siang mereka melihat ada segumpalan asap dipinggir pantai Biriosi. Dua marga tersebut akhirnya memutuskan untuk pergi ketempat tersebut, dengan harapan akan mendapatkan masyarakat.
Namun setelah tiba di pantai Biriosi, tidak terlihat satu masyarakat ditempat itu. Hanya terdapat 1 ekor anjing (Yowiri) yang akhirnya berhasil ditangkap Rumbruren dan Rumbekwan.
Pada leher anjing tersebut dikalungi tali dengan 7 buah tulang ikan. Setelah itu mereka melepas hewan itu kembali. Lewat 7 hari kemudian datanglah pemilik anjing (Kepala Suku, Red) yang saat itu dikenal dengan nama Yarini, menemui Rumbruren dan Rumbekwan, dimana pertemuan 3 orang tersebut ternyata tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.
Karena saling tidak mengetahui bahasa, Yarini hanya menggunakan bahasa isyarat untuk menyuruh Rumbruren dan Rumbekwan kembali kepulau asalnya (Nunfor), pasalnya pada tempat tersebut terdapat setan (Suanggi) yang setiap saat membunuh masyarakat. Namun sebelum pulang 2 marga asal Biak itu berjanji akan kembali lagi ke Manokwari untuk membuat perhitungan dengan suanggi.
Lewat beberapa waktu kemudian, Rumbruren dan Rumbekwan kembali ke Manokwari dengan membawa seorang mambri dengan marga Rumfabe. Mereka lalu menyusun rencana untuk menghabisi nyawa suanggi.
Suatu pagi suanggi yang saat itu dikenal dengan nama Wetori bersama istrinya penasaran dengan perahu yang dikemudikan oleh Rumbruren dan Rumbekwan dipesisir pantai Teluk Mananswari. Namun sebelumnya Mambri (Rumfabe) sudah berada didalam air pada tepi laut yang saat ini dikenal dengan nama Kwawi, sambil membawa panah dan parang.
Pada pantai tersebut terdapat bandar kayu panjang yang arahnya menuju laut. Dan diatas kayu itu Wetori dan istrinya berpijak untuk memangsa Rumbruren dan Rumbekwan yang berada diatas perahu.
Tapi alangkah kagetnya Wetori ketika itu, karena anak panah yang digunakan Rumfabe keburu menembusi jantung Wetori. Saat itu juga Wetori langsung terjatuh, disisi lain istri Wetori langsung lari meninggalkan Wetori menuju hutan.
Kesempatan itu lalu digunakan Rumbruren, Rumbekwan dan Rumfabe untuk memenggal kepala Wetori dan di isi dalam 1 piring adat untuk dibawa ke Yarini di pantai Biriosi sebagai tanda pembayaran adat.
Badan Wetori lalu dibiarkan pada tempat itu hingga membusuk dan dimakan cacing. Tempat itu lalu dinamakan Kwawi yang artinya Cacing Makan Bangkai Wetori”.
Upacara adat lalu dilakukan, karena setan atau pemangsa yang selama ini ditakuti masyarat, telah berhasil dibunuh oleh Rumbruren, Rumbekwan dan Rumfabe, dimana saat yang bersamaan juga dilakukan penukaran makanan.
Nenami – nami kokain, Kandaon nenami – namiwa kobur” itulah bahasa Tanah Nunfor yang dikeluarkan oleh Rumbruren, Rumbekwan dan Rumfabe ketika hendak meninggalkan Yerini dari Manokwari menuju Pulau Nunfor, yang artinya “Kitong Makan kalau sampai rasanya enak kami akan tinggal, namun kalau tidak enak kami akan pulang terus”.
Lewat beberapa waktu kemudian 9 marga yang berbeda lalu berlayar dari pulau Biak Nunfor menuju Manokwari dan bermukim pada pinggiran pantai fanduri waum, Dengan bahasa Biak Nunfor artinya tempat bekumpul. Tempat tersebut saat ini dikenal dengan nama Fanindi. Selain itu juga mereka bermukim pada pantai Padarni Dengan bahasa Biak Nunfor artinya Tiang Lampu / Tempat berdiri untuk memanggil orang. 

Asal Mula Gelar Sangaji
Setelah menempati dan bermukim didaerah pesisir pantai Fanindi dan Biriori, 9 marga tersebut lalu bersepakat untuk membuat 9 perahu untuk melakukan pelayaran mencari Manamaker. (Sesuai komitmen awal Rumbruren dan Rumbekwan). Mereka lalu berlayar menuju pantai selatan tepatnya tempat tersebut dikenal dengan nama Kepulauan Raja Ampat.
Didaerah itu mereka lalu bertemu dengan Sultan Todore. Mereka lalu menyembah dan menganggap bahwa Sultan Tidore adalah Manamaker. Setelah bermukim beberapa saat di pulau itu, suatu ketika dipinggiran pantai pulau Raja ampat terdapat beberapa kawanan ikan cakalang yang sementara bermain, Sultan Tidore lalu memerintahkan 9 marga ini untuk memanah kawanan ikan itu.
Namun dari kesembilan marga hanya satu marga yaitu Burwos yang berhasil memanah ikan cakalang tersebut. Saat itu juga Sultan Tidore memberikan gelar kepada Burwos dengan sebutan Sangaji Kaday Burwos, Sedangkan 8 marga lainnya diberi gelar Korano. 9 Marga itu lalu kembali menuju Manokwari dan diantaranya bermukim di Pulau Mansinam, Pulau Lemon dan pesisir Teluk Wasaibu. 

3 Mujizat Tuhan Sebelum Otow & Geisler
Sangaji Kaday Burwos yang diberi gelar oleh Sultan Tidore pada kepulauan Raja Ampat, setelah kembali ke Manokwari, membuat rumahnya di pinggir Pantai Nubaboi. Posisi saat ini tepat berada didepan Sekolah Dasar yang berada di Pulau Mansinam, sedangkan nama tempat sebelum berdirinya tugu peradaban orang papua dulunya dikenal dengan nama Samidoy.
Setelah bermukim beberapa waktu lamanya dipulau mansinam, pada Tanjung Pulau Rarsmbari yang saat ini dikenal dengan nama Pulau Lemon, Terdapat 1 buah kapal layar yang berlabuh disana. Kapal tersebut ternyata dinakodai oleh Manamaker.
Dari atas kapal itu, Manamaker lalu memanggil salah seorang masyarakat yang sementara memancing. Orang tersebut dulunya dikenal dengan nama Manure. Manamaker lalu menyuruh Manure untuk mengatarnya menggunakan perahu menuju kerumah Sangaji Kaday Burwos.
Namun setelah tiba dirumah Sangaji Kaday, Manamaker lupa membawa kantongnya pada perahu yang berlabuh di tanjung Rarsmbari.
Mujizat pertama yang dilakukan Manamaker adalah, memerintahkan Triton (Kerang) dan payung untuk membawa kantongnya yang berada diatas kapal. Awalnya manamaker menancapkan payung diatas kerang yang disaksikan oleh Sangaji serta serta masyarakat pada pulau itu. Triton dan payung lalu bergerak sendiri menuju kapal dan kembali membawa kantong Manamaker.
Mujizat kedua, Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di Pulau Mansinam bersama Sangaji, mereka kehabisan makanan. Manamaker lalu memerintahkan Manure untuk mengisi pasir yang berada di pantai pulau mansinam kedalam Hango (Panci Makan).
Usai dilakukan perintah Manure lalu kembalikan panci berisi pasir dan air pada Manamaker, dan saat itu juga muncul api dari atas kepala Manamaker guna memasak pasir yang sudah berubah menjadi beras.
Mujizat ketiga yang dibuat Manamaker sebelum pergi adalah 1 buah biji dari tanaman yang dibuang ketanah dan berubah menjadi pohon mangga. Buah dari pohon itu lalu dimakan bersama – sama oleh masyarakat di pulau mansinam. (Steven Yandeday)

1 komentar:

  1. Rencana Tuhan selalu indah dan tepat pada waktu nya...di berkati lah orang yang selalu berjalan dengan mengandalakan Nama Tuhan..
    Tuhan memberkati..

    BalasHapus